Merangkul Harapan, Mencari Kepastian
Oleh: Irma Hardisurya Color & Image Consultant “Color & Style”
Warna lebih kompleks dari sekadar yang kita lihat. Selain memiliki sisi estetika, kultural, dan psikologis, warna menyentuh emosi dan berpengaruh pada fisik maupun mental.
Peran warna dalam bisnis dan industri semakin nyata. Warna semakin menunjukkan kekuatannya di pasar sebagai salah satu unsur penentu orang membeli suatu produk. Itulah yang membuat warna terus bergulir, bergeser, datang dan pergi sesuai situasi dan kondisi.
Dari tahun ke tahun kelompok atau institusi global—beranggotakan desainer dan profesional warna—mengeluarkan prediksi warna untuk memberi arahan manufaktur, produsen, desainer, dan konsumen di berbagai bidang industri.
”The new green”
Kondisi ekonomi dan situasi politik paling sering menjadi penentu arah warna, selain teknologi, gaya hidup, budaya pop, dan tentu saja isu global seperti lingkungan.
Dampak masalah lingkungan, misalnya, membuat hijau menjadi primadona, bahkan dianggap sebagai ikon warna lingkungan. Hingga tahun lalu asosiasi warna tertua di dunia, Color Association of the United States (CAUS), masih memilih hijau bambu (semu kuning) sebagai color of the year untuk mewakili hasrat masyarakat akan lingkungan yang lebih bersih. Menurut CAUS, hijau memiliki kemantapan dan kekuatan yang sangat dibutuhkan saat situasi tidak menentu.
Namun, belakangan hijau harus bersaing dengan biru, warna yang juga berasal dari alam, sama-sama menyejukkan, menenangkan, dan memberi kenyamanan. Tahun lalu, Pantone sebagai institusi warna terkemuka memilih biru keunguan sebagai color of the year. Tahun ini, asosiasi Color Marketing Group menyambut biru sebagai the new green, pengganti hijau mewakili air, lautan, dan langit sebagai sumber kelangsungan planet Bumi.
Netral + Aksen
Situasi politik dan ekonomi global yang kian parah beberapa tahun belakangan ini berdampak pada pergeseran warna. Secara umum, kondisi prihatin memunculkan warna netral. Maklum orang tak mau ambil risiko dan cenderung memilih serba aman, nyaman, praktis, dan langgeng.
Di sisi lain, meningkatnya kesadaran masyarakat akan warna membuat warna hidup perlu dirangkul untuk membangkitkan optimisme sekaligus memberi aksen riang pada warna netral.
Karena itu, Pantone mengumumkan kuning mimosa sebagai “Warna 2009” dengan tujuan bisa membawa harapan, optimisme, energi, dan pencerahan; memicu imajinasi dan inovasi untuk memperbaiki keadaan.
Warna-warna aksen lain adalah warna cemerlang dari budaya India, China, dan Turki. Di antaranya merah jambu kuat bernada kebiruan (fuschia atau magenta), oranye (lebih matang dan lembut) dan tentu hijau, biru, dan toska (paduan hijau dan biru).
Ungu yang sudah populer sejak 2008, tahun ini merupakan ‘must-have color’ dan berada dalam urutan atas versi Color Marketing Group. Selain yang bernada kemerahan atau kebiruan, ungu hadir dalam nada lembut (lavender) dan pucat (mauve). Bahkan ada ungu keabu-abuan yang bisa menjadi alternatif, bersama warna netral sejuk lainnya: abu-abu, coklat keabu-abuan, beige (coklat muda) semu kemerahan dan putih.
13.1.09
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar