10.1.09

Irwan Ahmett: Berangkat dari Keresahan

Inovasi dan kreativitas merupakan dua hal terpenting bagi Irwan Ahmett, 33 tahun. Dengan keduanya, nama pria bertubuh kurus ini mencuat di industri kreatif Tanah Air. Maklum, Irwan menekuni desain grafis dengan memadukan kemampuannya dalam pengembangan diri dan aksinya sebagai motivator.

Dengan bekal keragaman itu, ia menelurkan proyek change yourself dan happiness, yang mengundang pujian sekaligus cacian. Ide kedua proyek ini terbilang unik. Dalam Happiness Project, misalnya, tak lain dari sekumpulan gagasan Irwan tentang pencapaian dan pencarian makna kebahagiaan, dengan melibatkan berbagai media yang ia akrabi dalam kesehariannya.

Dia melengkapi proyek ini dengan box happiness yang berisi lembaran kebahagiaan yang dituliskan oleh individu atau komunitas. Kotak ini menampung catatan ketika seseorang dilanda bahagia atau menemukan momen istimewa. "Banyak orang lupa mencatat kebahagiaan. Orang yang terpuruk, sedih, gagal, dan didera kemalangan akan lebih banyak berdoa atau merefleksikan diri, tapi saat bahagia menguap begitu saja."

Bagi Irwan, pesan saat kebahagiaan datang atau selalu bersyukur akan menjadi obat ampuh dan menguatkan diri ketika didera sedih, terpuruk, atau hal-hal yang tidak mengenakkan datang. "Efeknya, orang bisa lebih menerima dengan lapang dada dan cepat bangkit dari masalah atau hal-hal yang dinilainya kurang mengenakkan," ujarnya.

Awal tahun ini ia kembali melakukan gebrakan yang terbilang unik, yaitu merancang kartu ucapan Selamat Tahun Baru yang berisikan delapan kartu dengan ramalan tahun ini, baik di dalam maupun luar negeri. Misalnya Obama ke Jakarta, SBY terpilih kembali, facebook basi, kaset punah, harga desain makin murah, orang baik dan orang jahat 1:10, lahirnya ras manusia super, dan Steve Jobs mundur dari Apple. "Isi aneka kartu ini bukan asal buat. Saya merancangnya melalui riset serius meskipun dengan skala kecil," ucapnya.

Irwan membuat kartu ucapannya dari kertas semen. Dia menyajikan potongan delapan kertas semen kosong yang baru bisa dibaca isinya setelah dicelupkan ke dalam air. Banyak yang menyukai kartu ucapannya. Bahkan beberapa perusahan memintanya merancang kartu model tersebut. "Namun, sekali lagi saya menekuni bidang ini bukan semata soal uang. Saya ingin mengajak masyarakat mengasah inovasi dan kreativitas tanpa henti," ucapnya jujur.

"Inovasi dan kreativitas sebagai keseimbangan yang akan menggoreskan banyak hal. Bisa berupa ide, pemikiran, dan gagasan dalam berbagai bentuk untuk mengambil peran penting dalam kehidupan," kalimat tersebut mengalir dari bibir Irwan. Dia mengakui bidang desain grafis merupakan pijakan dasar untuk masuk ke dunia motivasi dan pengembangan diri.

Dalam dunia kreatif, ia menyebutkan orang dihadapkan pada dua pilihan, capital power atau people power. Kebanyakan berorientasi pada soal uang alias capital power. Tidak mengherankan jika sukses datang dengan cepat. "Hasilnya bisa terukur dan mandek karena tujuannya output. Berbeda dengan yang memilih people power seperti saya, cenderung lama tapi kenikmatannya pada proses yang teruji dalam waktu panjang," paparnya.

Irwan mengatakan ia dicap ke luar jalur lantaran dinilai berbeda dengan motivator umumnya, yang selalu menyerukan sisi keberhasilan atau sukses. "Sementara saya justru mengajak atau berangkat dari perasaan resah dan gelisah berdasarkan pengalaman pribadi," ujarnya.

Pembaca buku Kimia Kebahagiaan karya Imam Gozali dan Ready Made How to Make (almost) Everything A Do It Yourself Primer dari Thames&Husdson ini lahir dan besar di Ciamis, Jawa Barat. Anak kedua dari empat bersaudara ini mengalami masa kecil yang riang, nakal, dan spontan. Pernah bercita-cita menjadi pemain sepak bola, tapi bakat seninya mematri hatinya sehingga ia mengasah ilmu di desain grafis Institut Kesenian Jakarta. "Saya bersyukur memiliki seorang ayah yang guru dan pedagang yang kerap menasihati saya harus bisa mempelajari segala hal".

Selepas kuliah. Saat itu, pikirannya terpecah antara membuka toko telepon seluler atau memulai bisnis desain grafis. Dia memilih yang kedua, lalu mengembangkannya pelan-pelan hingga sekarang. "Desain grafis adalah cinta pertama saya. Di sini saya mencari dan menemukan kegelisahan hidup, termasuk mendapatkan jodoh," kata Irwan, yang menyunting Tita Salina, kakak kelasnya di jurusan yang sama.

BIODATA

Irwan Ahmett

Tempat dan tanggal lahir: Ciamis, Jawa Barat, 22 Mei 1975

Status: Menikah dengan Tita Salina

Pendidikan:

* 1990-1993: Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Ciamis, Jawa Barat
* 1993-1996: Desain Grafis Institut Kesenian Jakarta

Karier

* 1996-2000: Anggota tim desain grafis di beberapa perusahaan periklanan Di Jakarta, Indonesia
* 1997: Desainer grafis PT Indosemar Sakti
* 2000: Mendirikan Perum Desain Indonesia
* 2002: Desainer grafis Olgivy and Mather Advertising
* 2003: Pembicara pada seminar "Eksistensi Desain Grafis di Indonesia", Ruang Rupa, Jakarta; Fasilitator dan anggota poster work shop "The Force of the Right Wing", Goethe Institute, Jakarta
* 2004: Pembicara pada work shop "The Graphic Design Today", Jakarta Institute of Art; work shop "Imagining Jakarta", peserta seminar "Graphic Europe Conference", Berlin, Jerman
* 2006: Mendirikan Ahmett Salina

----
Sumber: Handriani P, " IRWAN AHMETT: Berangkat dari Keresahan", Koran Tempo, 7 Januari 2009.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar